Minggu, 02 November 2014

Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D) Tahun 2014

Seperti halnya suami, saya pun memiliki "dunia"  saya sendiri dalam hal bidang pekerjaan yang ditekuni... :) Bergelut dengan teori perencanaan wilayah dan kota selama 1,5 tahun dalam kurun waktu melanjutkan study S1, sedikit banyak memberikan pegangan bagi saya dalam menyelesaikan project ini.

Bekerja sama dengan salah satu konsultan di daerah Semarang, saya dan tim memperoleh kesempatan dari KIMTARU Propinsi Jawa Tengah untuk mengerjakan project  Penyusunan Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D) Paket 3 yang melingkupi empat kabupaten yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar serta Kabupaten Wonogiri. Saya merasa terhormat, karena salah satu wilayah study yang di analisa adalah tanah kelahiran saya sendiri. Kabupaten Wonogiri tercinta.... :)

Harapan saya, pekerjaan ini dapat menghasilkan output yang tepat dan akurat sehingga setidaknya saya ikut berkontribusi dalam pembangunan wilayah Indonesia pada umumnya serta tanah kelahiran saya (khususnya)...

Sedikit saya sampaikan mengenai substansi KTP2D yang saya dan tim saya kerjakan ini. KTP2D (Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa) merupakan pendekatan pembangunan kawasan perdesaan dengan cara mengembangkan potensi unggulannya, yaitu suatu sumber daya dominan baik yang belum diolah (eksplor) maupun sumber daya yang tersembunyi berupa sumber daya alam, sumber daya buatan ataupun sumber daya manusia yang difokuskan pada kemandirian masyarakat sesuai dengan azas TRIDAYA yang intinya adalah pemberdayaan masyarakat, ekonomi dan pendayagunaan prasarana dan sarana permukiman.

Kriteria KTP2D secara umum meliputi :
  1. KTP2D merupakan satu kesatuan kawasan perdesaan yang mempunyai potensi andalan untuk cepat berkembang;
  2. KTP2D tidak memiliki ciri perkotaan
  3. KTP2D bukan merupakan pusat pemerintahan
  4. Desa tertinggal tidak dapat menjadi bagian dari KTP2D
 Dalam pengerjaan Penyusunan KTP2D ini, alur kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
  • Tahap persiapan, tahapan ini meliputi penyusunan framework. Framework ini bertujuan untuk mempermudah langkah-langkah kami dalam penyusunan KTP2D, di dalamnya termuat substansi yang akan dikerjakan lengkap dengan list sarana dan prasarana yang dibutuhkan serta schedulle mulai dari tahapan survey hingga output yang akan kami hasilkan.
  • Tahap Survey, dalam tahap ini kami satu tim (yang terdiri dari 4 orang) menjelajah gunung melewati lembah...... (tsaaaaah) guna memeperoleh data seakurat mungkin dari 4 wilayah study yang harus kami analisa. Tahapan ini cukup berat, mengingat medan yang kami tempuh berjarak saling berjauhan antara satu dengan yang lain. Ditambah lagi dengan ketentuan bahwa dalam satu kabupaten terdapat tiga (3) Desa Pusat Perkembangan/ DPP yang harus kami survey satu per satu. Kami harus memetakan jalan demi jalan, sumber air demi sumber air, potensi serta permasalahan secara mendetail untuk kemudian di plot-kan di peta. Dimana jalan yang rusak dan harus diperbaiki? Dimana potensi  yang merupakan basis perekonomian kawasan tersebut, apakah membutuhkan pasar? Apasajakah obyek vital yang bisa memperlancar arus distribusi dari DPP tersebut ke hinterlandnya, perlukan peningkatan kualitas? Daaaan lain-lain. Kami harus mengekspolasi secara mendalam dan medetail terutama pada DPP serta dampaknya untuk desa hinterland (penyangga). Bayangkan saja apabila satu kabupaten ada tiga DPP, maka apabila empat kabupaten kami harus menjelajah ke duabelas (12) desa yang saling berjauhan satu dengan yang lainnya... Omigoood (>.<)
  • Tahap Pengerjaan Laporan, tahapan ini merupakan tahapan yang "terberat nomor 2 setelah survey". Hehehee... Berat semua dong! Awalnya kami memilah-milah untuk dapat dikelompokkan ke input-proses-output hingga didapatkan usulan penanganan. Dari usulan penanganan ini kemudian diturunkan lagi menjadi RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) versi KTP2D. Naah, di RPJM ini nih kreativitas kami sebagai planner diuji. Disini kami melakukan analisa program yang dibutuhkan guna peningkatan perekonomian baik di DPP maupun Desa hinterland lengkap dengan Blokplan dan DED (Detail Engineering Design) usulan program penanganan.
Blokplan dan DED DPP Tubokarto, Kec. Pracimantoro, Kab. Wonogiri
  • Tahap Paparan, tahapan ini lumayan bikin deg-degan sih karena kami harus mempertontonkan hasil analisa kami untuk dinilai oleh si "pemberi kerja" :D tapi alhamdulillaah semua lancar. Dari sini kami memperoleh banyak kritikan maupun masukan guna menyempurnakan hasil kerja kami. Setelah semua "fix" menurut pihak "pemberi kerja" maupun menurut kerangka acuan kerja maka kami mempresentasikan hasil perencanaan kami pada pihak SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait dan lagi-lagi alhamdulillaaah usul kami diterima... :)
Dari sini, saya dan tim berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan hasil yang terbaik sehingga dapat merepresentasikan kebutuhan sarana prasarana penunjang berkembangnya DPP maupun hinterland untuk bisa menjadi kawasan pusat perkembangan desa.

Berita baiknya, pekerjaan kami ini rencana akan ditindaklanjuti dengan pembangunan fisik untuk tahun 2015. Semoga.... :)



Herlina Kusuma Wardani, S.T. / Planner

Tidak ada komentar:

Posting Komentar